GUNUNG SINABUNG MELETUS LAGI

091510journalismphoto

GUNUNG SINABUNG MELETUS LAGI

Kalimat apa yang paling sesuai untuk menyimpulkan sebuah fenomena tentang bencana alam yang sering terjadi di tanah air? “mungkin Bumi sudah tua” atau “semua adalah rahasia Sang Pencipta” itu adalah kalimat yang sering diucapkan oleh masyarakat awam disekitar kita ketika menanggapi tentang berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini. Kita sebagai manusia hanya bisa berhati-hati dan meningkatkan sikap kewaspadaan kita ketika berada di daerah yang rawan bencana.

Indonesia secara alamiah memiliki tingkat resiko yang tinggi. Fenomena dari berbagai bencana alam telah menjadi bagian dari sejarah di Indonesia dan telah diberitakan di berbagai media massa. Salah satunya yang terjadi di tanah Karo, Gunung yang tertidur selama 1600 tahun telah terbangun dari tidurnya, menggema diseluruh negeri tanah karo sejak tahun 2013 lalu dan hingga saat ini tanah karo masih dalam keadaan berbahaya, seperti yang diberitakan disalah satu media cetak, tercatat erupsi pertama terjadi sejak 31 Desember 2013. Pkl. 00:44:57 WIB. Erupsi yang terjadi terus meningkat dari status siaga menjadi status awas. Selasa (14/1/2014), Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meletus sekurangnya dalam 24 jam telah terjadi 30 kali letusan yang disertai pula dengan luncuran awan panas. Hingga Oktober 2014 ini telah meningkat menjadi status awas (level III). Masyarakat yang berada di bawah radius 5 kilometer dari kaki Gunung Sinabung tersebut harus mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurut BNPB diketahui pengungsi hingga oktober ini 3.287 jiwa (1.019 KK) di 16 titik Sebanyak 19.478 jiwa (5.675 KK) telah dipulangkan ke rumahnya, sedangkan pengungsi yang tinggal di hunian sementara 6.179 jiwa (2.053 KK). Hingga Oktober ini penduduk tanah karo masih belum dapat tenang menghadapi cobaan yang menimpa negeri mereka, rasa was-was terus terus menghantui warga karena rasa khawatir akan terjadi erupsi pada malam hari yang dirasa menyulitkan mereka untuk mengungsi.

Kejadian ini telah menggugah hati masyarakat Indonesia dari berbagai pihak untuk ikut meringankan beban para korban Sinabung dengan memberikan bantuan berupa harta benda dan obat-obatan, karena para pengungsi akan sangat membutuhkan uluran tangan dari para relawan bencana.

Fakta yang terjadi adalah keterlambatan bantuan yang datang kelokasi kejadian dan tempat pengungsian. Dalam hal ini pemerintah telah berupaya membuat konsep tentang penanggulangan bencana dengan lahirnya Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (di sini). Kemudian dilanjutkan dengan keluarnya Peraturan Pemreintah No. 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana dan Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

BNPB dibentuk untuk mengambil alih tugas-tugas sektor atau dinas terkait, tetapi lebih banyak sebagai koordinator dan implementator/fasilitator pada saat prabencana dan pemulihan (pasca bencana) dan berfungsi komando pada saat tanggap darurat. Sejalan dengan hal tersebut, Presiden RI memberikan arahan sebagai berikut:

(1) Pada saat terjadi bencana Bupati/Walikota adalah unsur Pemerintah yang paling bertanggung jawab untuk penindak awal.

(2) Gubernur merapat untuk memberikan dukungan.

(3) Pemerintah pusat merapat untuk memberikan bantuan yang bersifat ekstrim jika diperlukan.

(4) Melibatkan TNI dan Polri.

(5) Penanganan bencana sedini mungkin.

Undang-undang No. 24 Tahun 2004 Pasal 26 ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak:

  1. a) mendapatkan perlindungan sossial dan rasa aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana;
  2. b) mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana;
  3. c) mendapatkan informasi secara tertulis dan/atau lisan tentang kebijakan penanggulangan bencana;
  4. d) berperan serta dalam perencaanaan, pengoperasian, dan pemeliharaan program penyediaan bantuan pelayanan kesehatan termasuk dukungan psikososial;
  5. e) berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan bencana, khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya;
  6. f) melakukan pengawasan sesuai dengan mekanisme yang diatur atas pelaksanaan penanggulangan bencana.

Pada ayat 2 menjelaskan bahwa: setiap orang yang terkena bencanan berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. Kemudian ayat 3 menjelaskan bahwa: setiap orang berhak untuk memperoleh ganti kerugian karena bencana yang disebabkan oleh kegagalan konstruksi.

Paket lengkap erupsi Sinabung tahun ini kita harapkan dapat melengkapi pengalaman bagi masyarakat Tanah Karo Umumnya dan masyarakat Karo yang tinggal di daerah lereng Gunung Sinabung khususnya. Pengalaman ke dua sejak erupsi pertama tahun 2010 sejak Sinabung bangun dari tidur panjangnya dan kembali bangun dengan gaya baru pada tahun 2013 hingga saat ini. Dan tentu harapan kita bahwa di tahun 2014 ini adalah akhir dari letusan Gunung Sinabung dan bencana di tanah Karo dan akhir dari bencana di Sumatera.

dhanu3636